Berangkat
pagi ini Ayra sedikit mengeluh tidak enak kepala, pusing. Tapi tetap juga
berangkat ke sekolah. Di bajaj Ayra duduk menyender cenderung rebahan.
Saya bilang kalau nanti tidak kuat, tidak usah ikut upacara saja. Baris
di belakang, lalu pergi aja ke UKS atau PMR sekolah. Siang hari saya
dapat kabar dari ayahnya kalau Ayra muntah. Karena lagi rapat kita
saling berkirim kabar via whatsapp. Rupanya Ayra belum pulang dan lagi menunggu di
jemput pak Udin. Rapat kelar saya telpon. Jadi ceritanya begini;
Ayra
cuma ikut upacara sampai menyanyikan lagu Indonesia Raya. Karena nggak
kuat dia istirahat di ruang UKS sampai tertidur sejenak. Bangun ketika
upacara selesai dan mau ke ruang tata boga, mau praktek bikin puding.
Waktu itu Ayra merasa perutnya nggak enak dan berasa mual. Sampai di
ruang tata boga..mau muntah, lalu segera ke arah toilet, tapi terlambat
udah keburu muntah di ruang tata boga. Muntahannya sedikit. Karena
teman-temannya lagi praktek tata boga, jadi dia bersihkan sendiri
muntahannya. Dia pel sendiri juga. Sejenak saya terpana baca
whatsappnya? Tidak ada yang membantunya, hal yang sama dirasakan oleh
ayahnya juga, kami sedih.. kemana teman-temannya atau gurunya :-( ?
Kepada Ayra saya bilang, tak apa...bagus Abang udah membersihkan muntahan Abang sendiri, Abang hebat!
Melihat
ini saya dan ayahnya sedih, kemana ya empati teman2nya, ketika temannya
sakit tidak ada yang membantunya atau sekedar menemaninya ketika dia
sedang membersihkan muntahannya..., ibu gurunya juga dimana? Tidak bisakah sekedar melihat apa yang terjadi pada anak didiknya?
Tapi okelah..kami berbaik sangka aja, anak-anak sibuk praktek bikin puding, bu guru sibuk menerangkan dan mengawasi anak-anak yang praktek dan siapa juga ya yang mau ikut membersihkan muntahan :D
Buat kami ini juga pembelajaran buat Ayra, tak apa..tak usah dibantu, karena ternyata Ayra mampu mengurus dirinya sendiri. Sementara kami tau banget kalau Ayra apa-apa terkadang seperti selalu minta bantuan kami. Meskipun hasil pelnya tidak terlalu bersih atau mungkin bersih bener (saya kan tidak lihat) tak apa. Dari situ dia juga akan melihat mana teman yang tulus berempati, mau membantu atau menolongnya. Dan Ayra juga belajar bertoleransi, berempati lagi, kalau selama ini dia baru melakukan hanya pada adiknya, ke depannya ke orang-orang lain di sekitarnya... :-)
Senin, 28 Oktober 2013
Di taksi dalam perjalanan pulang ke rumah..
No comments:
Post a Comment