Sunday, February 18, 2007

Arisan Telor

“TIINGG...Tooong...!”
“Maafff...tidak terima tamuuu...!” suara melengking terdengar jelas dari balik pintu rumah Icha, disusul gelak tawa yang menggelegar memenuhi seisi ruangan. Tak lama kemudian tampak Iin dan pasukannya memasuki ruangan. Serempak kita semua berdiri menyambut hangat sobat kita yang tampak kerepotan, bagaimana tidak, Iin junior kebingungan melihat tingkah polah teman-teman mamanya yang sigap menyambut kantong lupis dari tangan mamanya. “Aaahhh...takut !! seperti cerita Sponge bob sedang merebut Crabby Petty..!” bisik si kecil dalam hati. Namun Nining yang selalu berhati baby sitter segera merangkul dan menggendong Iin junior. Sambutan hangat menyusul dari teman-teman lainnya, cipika-cipiki mendarat di wajah-wajah yang penuh suka cita. Yaahh... begitulah kalau kami yang menamakan kelompok “Arisan Telor” ini sudah berkumpul.

Arisan Telor ini adalah kumpulan dari teman-teman kuliah di Politeknik UI hampir tujuh belas tahun yang silam. Nama Arisan Telor itu berasal dari acara kumpul-kumpul setiap hari ulang tahun kami. Icha tuh yang paling sering mengucapkan arisan telor. Akhirnya kami terbiasa menyebut kelompok kami : Arisan Telor. Kami terdiri dari delapan orang, Aam, Esti, Icha, Ita, Iin, Naning, Nining dan Vivi, yang semuanya berada di Jakarta. Tapi ada satu anggota pasif yaitu Ria karena dia tinggal jauh di Jerman. Walau pun jauh Ria selalu mengamati setiap acara arisan telor, mulai dari menentukan tanggal arisan yang selalu di-reschedule, menu makanan yang akan disantap, hingga laporan liputan arisan beserta sharing foto-fotonya.

Bukan cuma anggota DPR yang punya peraturan, arisan telor kami juga punya peraturan yang telah disepakati : Arisan Telor diadakan dua bulan sekali, Arisan hanya berjalan jika seluruh anggota hadir, Satu kali kocokan untuk satu anggota dan Tempat arisan harus memungkin anak-anak kami dapat bermain dan bebas dari asap rokok. Tapi ide awal itu hanya tinggal kenangan belaka. Walaupun arisan tidak pernah memakan waktu lebih dari tiga sampai empat jam, tapi setiap kali menentukan tanggal arisan selalu saja susah. Ternyata tidak mudah lho untuk menyatukan jadwal delapan orang perempuan yang semuanya bekerja dan juga sebagian besar telah berkeluarga. Akibatnya, tanggal arisan tidak pernah ditetapkan dengan mulus, re-schedule....dan di re-schedule lagi, inilah uniknya arisan telor kami, kata sepakat bulat seperti telor harus tercapai supaya semua anggota bisa hadir di tanggal yang ditetapkan.

Ada hal istimewa dari arisan telor kami, sesungguhnya acara ramah tamah dan silaturahmi tidak terjadi saat kita bertemu di arisan saja, tapi kita melakukannya setiap hari dan setiap saat. Kok bisa? bisa dong....tapi sebelumnya kami para anggota arisan telor minta maaf kepada bos-bos kami di kantor, karena kami selalu memanfaatkan teknologi dan email kantor untuk menjadi sarana komunikasi kami. Dan mungkin sedikit mengambil waktu kami di kantor, walaupun sebenarnya siapa yang peduli?

Karena jam terbang silaturahmi kami itulah maka ikatan antar anggota arisan telor ini kuat seperti kuatnya lem dari putih telor. Disela-sela kesibukan kami yang tenggelam dalam urusan pekerjaan dan rumah tangga, kami masih punya banyak cinta yang bisa dibagi. Ita sampai tak kuat bicara dan menahan tangis saat teman-teman memberikan doa dan simpati buat buah hatinya yang dirawat di rumah sakit. Icha pun terharu ketika doa kami mengiringi operasi si bungsu, belum lagi wajah Esti yang cerah dan bahagia ketika kami datang menjenguk peri kecilnya yang baru tiba di dunia. Dan banyak lagi perhatian, lelucon dan nostalgia yang tiada habisnya mewarnai hari-hari kita. Yang paling asyik kalau kita mengurai lagi cerita-cerita jadul soal dandanan, celetukan, omelan dosen bahkan cowok yang dulu kita taksir...he..he..he. Akhirnya email group arisan telor kita jadi lebih seru daripada milis resmi angkatan kuliah kami (oops… sorry).

Kami pernah pula mengadakan arisan di rumah, dengan syarat setiap anggota membawa makanan buatan sendiri. Lucu juga. Ibu-ibu yang jarang masuk ke dapur ini dipaksa memasak. Walaupun akhirnya beberapa diantara kami membeli makanan dari rumah makan.
Tapi sumpah puding lapis tiga buatan Esti enak banget. Lupis bawaan Iin juga enak, walaupun kami juga tahu dia gak bisa buat lupis. Mie goreng buatan Mamanya Ita juga enak (hehehe.. bocoran dari anak-anak Ta…). Lain waktu, arisan diadakan di rumah Esti, tapi pada hari kerja, yang terjadi ádalah kami memindahkan rumah makan ke rumah, karena terlalu banyak makanan yang dipesan.

Akhir-akhir ini arisan lebih sering diadakan di mall, setelah pulang kerja, dengan pertimbangan lebih praktis. Yang penting ngerumpinya bisa lebih lama. Tapi mana pernah bisa ngerumpi berlama-lama, delapan anggota arisan tidak pernah datang on time atau minimal hampir bersamaan, jadi bersambung deh ngerumpinya di email. Tapi kami mengerti dan maklum kok karena kesibukan kantor yang berbeda-beda, belum lagi ditambah kemacetan Jakarta pada jam-jam bubaran kantor.

Beberapa waktu lalu Ria sedang mudik ke Jakarta, mendadak Arisan Telor harus segera diadakan. Dan yang mengherankan, ketika Ria sedang di Jakarta, semua anggota Arisan Telor dengan mudahnya dapat menentukan tanggal arisan tanpa harus di-reschedule??

Arisan kami ini memang tidak pernah memakai tema setiap kali arisan. Karena arisan ini lebih bertujuan pada silaturahmi dan juga sekedar berkangen-kangenan. Yang selalu menjadi topik bahasan selain keluarga dan kantor pasti bernostalgia masa-masa kuliah dahulu. Rasanya kenangan-kenangan itu tidak pernah habis untuk dibahas dan dicela.

Jika kami diberi umur, tiga tahun ke depan kami akan merayakan persahabatan kami yang telah berjalan 20 tahun. Seperti telor yang selalu digemari sepanjang masa dan sepanjang usia, nikmat persahabatan kami ini tiada pernah habis. Semoga arisan telor ini dapat abadi, agar lebih dapat merekatkan persahabatan diantara kami dan keluarga serta anak-anak kami kelak. Bersahabat hingga kami semua menjadi Oma-oma. Bersahabat hingga kami menangisi diantara kami saat mengantarkan ke tempat peristirahatan yang terakhir, siapa pun itu nanti...

Jakarta, 2 Desember 2006
Ditulis oleh : Naning - Ita

1 comment:

Anonymous said...

waduh manyaa...terharu deh auw mbaca postingan mu ini..senengnya punya temen2 yg kompak gituh..semoga persahabatannya langgeng ya manya...amin

Qurban 10 Dzulhijjah 1447 H

Kembali...selalu ada yang pertama.. Kali ini Alby berqurban dan Insya Allah akan selalu dilakukannya di tahun-tahun berikutnya, aamiin yra.....